Jumat, 05 November 2010

jalan keluar dari kesulitan hidup

Setelah `terusir' dari kenikmatan surga, Nabiyullah Adam mengalami ujian berat. Berpisah dengan Siti Hawa di tempat yang sangat asing. Menurut riwayat, Adam dibuang ke India, Hawa di Palestina.



Hal yang sama juga dialami Nabi Yunus AS. Tiga hari berada di perut ikan raksasa. Apalagi, semua armada kapal mengetahui setelah diundi namanya yang keluar sebagai penumpang yang harus dikorbankan di lautan. Di dalam perut ikan, Nabi Yunus AS diliputi rasa berdosa. Beliau yang telah meninggalkan dakwah itu pun mengalami `kesulitan hidup', berpisah dengan umat dan harus tertelan ikan besar.

Kesulitan akan selalu ada, termasuk manusia-manusia pilihan, yaitu nabi dan rasul. Bedanya, rasul dan nabi menyikapinya sebagai ibrah dan sarat pelajaran, sedangkan kita terkadang menambah jauh jarak kita dengan Allah, bahkan terkesan menyalahkan takdir-Nya. Bagi nabi dan rasul, kesulitan hidup mengukuhkan kedudukan. Bagi kita, kesulitan hidup memperburuk keadaan bahkan menjatuhkan kedudukan.



Kesulitan hidup ada yang datang karena ulah dari perbuatannya, tapi ada juga yang datang karena merupakan ujian dari Allah SWT. Bisa jadi sebagai teguran untuk mengingatkan, tapi bisa sebaliknya sebagai azab dan kutukan. Semoga saja kesulitan hidup yang kita alami bukan sebagai kutukan. Karena itu, jika ia adalah teguran untuk mengingatkan, inilah yang harus dilakukan supaya kesulitan hidup menjadi kenikmatan dan kebahagiaan hidup.



Pertama, tobat sungguh-sungguh dengan meminta maaf dan mengembalikan harta hasil kezalimannya (QS Al-Furqan: 70).



Kedua, bertakwa kepada Allah dengan menegakkan semua perintah-Nya, baik yang wajib maupun yang sunah dan secara bersamaan meninggalkan semua laranganNya, baik yang haram maupun yang makruh ataupun syubhat (QS At-Thalaq: 2-3).



Ketiga, perbanyak istighfar (QS Nuh: 10-12).

Nabi Adam terkenal dengan kalimat permohonan ampunnya, Rabbanaa zhalamnaa anfusana wa illam taghfirlanaa wa tarhamna lana kuunanna minal khasirin, `'Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami, jika tidak Engkau ampuni sungguh kami tergolong orang-orang yang merugi.'' Begitu juga, Nabi Yunus dengan doa dan istghfarnya, Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin, `'Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orangorang yang zalim.''



Keempat, sedekah (QS At-Thalaq: 8).



Kelima, menolong saudara yang dalam kesulitan (QS Muhammad: 7).



Keenam, selalu berdoa (QS Al-A'raf: 180).



Ketujuh, jangan tinggalkan tahajud (QS Al-Isra: 79).



Kedelapan, senantiasa dalam keadaan berzikir, baik di hati, pikiran, lisan, ataupun perbuatan (QS AlAhzab: 41-44). Dan kesembilan, tawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah segala-galanya sudah dilakukan (QS AtThalaq: 4). Wa Allahu A'lam.

Sabtu, 14 Agustus 2010

meraih kesempurnaan puasa lewat pengendalian diri

“Bulan ramadhan (adalah) bulan yang didalamnya diturunkan al Qur’an sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia dan penjelasan (bayan) tentang petunjuk itu dan furqon (pembeda haq dan batil)”
( QS. Al Baqoroh : 185)

Ramadhan jika ditinjau dari segi bahasa memiliki makna “sangat terik” atau panas karena terik matahari. Adapun bulan puasa disebut bulan ramadhan karena ia dapat memakar dosa-dosa dengan amal sholih. Adapun menurut Zamakhsyam dalam Rawai’ul Bayaan hal 100 mengatakan, “orang-orang arab dahulu kala ketika memindahkan nama-nama bulan itu menurut masa yang dilaluinya (menurut iklimnya). Nah, kebetulan bulan ini melalui masa panas karena sangat terik matahari, sehingga disebutlah ia Ramadhan.


Saudaraku, dus puasa adalah jalan menuju ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Dan orang yang berpuasa adalah orang yang terdekat dengan Tuhannya. Saat perutnya kosong dan hatinya merasakan kepuasaan, tentramlah hidupnya, saat rongga perutnya merasakan dahaga, menangislah matanya.


Salah satu fungsi serta keutamaan hadirnya bulan ramadhan adalah ramadhan sebagai syahrush shobri atau bulan kesabaran, yaitu bulan untuk melatih dan mendidik individu untuk bersabar dalam menghadapi musibah, bersabar dalam ketaatan kepada Allah, serta bersabar dalam menjaga seluruh anggota tubuh agar tidak bermaksiat.


Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang” (QS. Al Mukminun: 111)

Saudaraku, salah satu fungsi puasa, disamping melatih kesabaran adalah merupakan proses pengendalian diri. Bulan puasa dirasa menjadi media yang paling tepat bagi setiap pribadi muslim untuk melatih mengendalikan diri, baik mengendalikan nafsunya, tingkah lakunya, maupun seluruh anggota tubuhnya, seperti mata, telinga, lidah, hati serta perut.

Nah, bagaimana cara mengendalikan diri, wabil khusus anggota tubuh kita pada bulan Ramadhan? Sejatinya urgensi puasa bukanlah sekedar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Lebih dari itu, puasa adalah proses mempuasakan beberapa anggota tubuh agar mampu mengendalikan setiap anggota tubuh dari melakukan perbuatan maksiat.

Kemudian muncul lagi satu pertanyaan, bagaimana hati, mata, telinga, mulut dan perut melakukan puasa? Berikut penjelasannya.


Sesungguhnya seluruh anggota tubuh ini memiliki peran yang sangat besar dalam menyempurnakan puasa setiap pribadi takwa. Begitu juga sebaliknya, mereka juga mampu menjadikan puasa menjadi sia-sia alias tidak memperoleh ridho Allah Ta’ala. Semua tergantung pada sejauh mana kita mampu memimpin dan mengendalikan mereka agar tidak melakukan maksiat. Disini, peran hati menjadi sangat sentral, melihat pengendali tubuh ini berada pada seonggok daging yang biasa kita sebut “hati”.

1. Bagaimana Hati Berpuasa?

Sesungguhnya hati adalah nahkoda bagi tubuh kita. Ia merupakan asas semua petunjuk, dasar semua taufiq, landasan dan pangkal perbuatan.



Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, ….Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya.” ( At-Taghobun :11)



Dengan kata lain, hati memiliki fungsi sebagai pengendali seluruh anggota tubuh. Baik buruknya akhlak kita tergantung pada kondisi hati kita. Jika hati baik, maka baiklah hidup kita. Sebaliknya, jika hati dalam kondisi rusak, mati dan menderita, maka hancur pula hidup kita.



Maka dari itu saudaraku, jagalah hati ini. Jangan biarkan ia redup bahkan mati karena maksiat yang kita jalankan. Sinarilah ia dengan memperbanyak istighfar dan amal sholih. Pada bulan ramadhan, hati seorang insan beriman juga ikut berpuasa.



Nah, bagaimana sang hati ikut berpuasa? Yaitu dengan mengosongkannya dari materi, bentuk-bentuk syirik yang merusak, keyakinan yang batil, bisikan-bisikan jahat serta berbagai penyakit-penyakit hati seperti sombong, ujub dan dengki.



1. Bagaimana Lidah Berpuasa?

Puasanya lidah adalah dengan menjauhi berbagai perkara yang sia-sia, yang tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi kehidupannya. Beberapa perkara sia-sia diantaranya, ghibah (gosib), mengumpat, berbohong, dan melupakan hari kiamat.



Selanjutnya, bagaimana seharusnya lidah ini beramal? Para ulama salaf selalu menjaga lidah mereka dengan senantiasa mempertimbangkan dahulu kata-kata yang hendak diucapkan. Mereka menghormati bicara. Bicara mereka adalah dzikir dan diam mereka adalah berpikir.



Saudaraku, lidah ini adalah jalan untuk kebajikan. Seperti halnya hati, lidah juga memiliki kecenderungan untuk bermaksiat. Itulah mengapa ia mesti ikut berpuasa. Jagalah ia supaya tidak berlebihan dalam berbicara. Basahi ia dengan memperbanyak dzikir, didik ia dengan takwa serta bersihkan ia dari maksiat. Semoga Allah senantiasa memelihara lidah ini dari berbuat maksiat. Amin



1. Bagaimana Mata Berpuasa?

Maksiat banyak terjadi disebabkan oleh mata. Mata yang berkeliaran menjadi titik awal timbulnya perbuatan tercela. Itulah mengapa mata juga perlu berpuasa. Dan puasanya mata adalah dengan menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh agama.



Salah seorang salaf bertutur: “Suatu ketika saya gunakan mata untuk berbuat haram, lalu aku menjadi lupa al qur’an setelah 90 tahun menghafalnya”. Naudzubillah, begitu bahayanya mata ini. Sehingga tak berlebihan kiranya mereka berkata: Ia (mata) adalah panglima. Bila dilepas maka ia akan memangsa dan bila diikat, ia akan tunduk, dan bila dibebaskan sebebas-bebasnya, maka ia akan membawa hati pada kehancuran”.



Oleh karena itu wahai saudaraku, jagalah mata ini. Ajaklah ia tuk berpuasa. Jauhkan ia dari hal-hal yang haram. Jangan jerumuskan ia dengan membebaskannya sebebas-bebasnya untuk memandang segala sesuatu yang buruk. Mudah-mudahan hati ini tetap bersih dan puasa pun menjadi sempurna serta memperoleh ridho Allah Azza wa Jalla. Amin



1. Bagaimana Telinga Berpuasa?

Orang-orang yang sholih adalah mereka yang memelihara telinga mereka dari memperdengarkan hal-hal yang menimbulkan rusaknya hati dan kacaunya jiwa.



Selanjutnya, telinga berpuasa dengan menghindarkan diri dari mendengar kata-kata kotor dan jahat, serta lagu-lagu/syair yang menyebabkan lupanya hati dari mengingat Allah. Untuk mengatasi hal ini, maka seharusnyalah kita ajak telinga tuk memperdengarkan nasihat-nasihat dari ulama atau orang bijak. Tidak hanya itu, setelah mendengarkan, ajak pula ia tuk merenungkan dan memahami setiap untai kata yang dilantunkan oleh para ulama tersebut. Sehingga ia dapat mengambil hikmat darinya.



Telinga orang yang berpuasa diarahkan untuk memperdengarkan hal-hal yang indah, sedangkan telinga orang-orang lalai dipergunakan tuk mendengarkan kebatilan.



Semoga kikta menjadi hamba yang telinganya hanya tuk mendengarkan hal-hal yang baik dan benar. Amin



1. Bagaimana Perut Berpuasa?

Perut berpuasa dengan menjauhi segala sesuatu yang haram dan hanya mengisinya dengan makanan dan minuman yang halal lagi baik. Jauhkan perut ini dari makanan dan minuman hasil riba. Karena sejatinya mereka didapat dari perilaku haram.



Bagaimana mungkin perut ini melakukan puasa, sedang ia berbuka dengan yang haram. Jika sedikit saja perut ini terisi oleh sesuatu yang haram, maka sia-sialah puasa kita. Dan yang lebih parah, menjadi redup dan rusaklah hati ini.



Saudaraku, demikianlah anggota tubuh kita berpuasa. Hati, mata, lidah, telinga dan perut ini, kesemuanya adalah senjata untuk memperoleh kesempurnaan puasa kita. Maka dari itu, jagalah mereka dengan sebaik-baiknya. Kendalikan mereka agar tetap berada pada jalur takwa, dan hindarkan mereka dari hal-hal yang haram. Semoga Allah melapangkan puasa kita dan menempatkan kita pada kedudukan tinggi bersama para sahabat dan tabi’in. Amin

Rabu, 28 Juli 2010

rendah hati

Rendah Hati (Tawadhu'), Sifat Kitakah?
Sebagai umat Islam, tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata “takwa”. Menurut definisinya, takwa adalah imtitsâlu awâmirillâh wajtinâbu nawâhîhi (melaksanakan semua perintah Allah sekuat-kuatnya dan menjauhi apa pun larangan-Nya). Sebagaimana diajarkan oleh para ulama, takwa dalam bahasa Arab terdiri dari empat huruf, yaitu :

*
ت (tawâdhu‘) artinya rendah hati. Selain tawâdhu‘ bisa juga bermakna tadharru‘ yang berarti sama yaitu merendahkan diri di hadapan Allah dan sopan santun terhadap sesama.
*
ق (qanâ‘ah) artinya menerima dengan syukur semua karunia Allah
*
و (wara‘) artinya meninggalkan perkara syubhat dan tidak berfaedah
*
ي (yaqîn) artinya yakin sepenuh hati kepada Allah


Di kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim” terdapat syair tentang kerendahan hati yang berbunyi :


إِنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ خِصَالِ الْمُتَّقِي * وَبِهِ التَّقِيُّ إِلىَ الْمَعَـالِي يَرْتَقِي

Sesungguhnya rendah hati adalah salah satu ciri orang yang bertakwa
Dengannya, orang yang bertakwa mencapai derajat kemuliaan

Nabi Muhammad saw. juga telah memerintahkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda :


إِنَّ اللهَ أَوْحَى ِإلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغَى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘, sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya. (HR Muslim)

Di hadits lain, Rasulullah saw. mengingatkan akan jaminan bahwa orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah.


مَازَادَ اللهُ عَبْـدًا ِبعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya). (HR Muslim)


مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ


Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya. (HR Abu Nu‘aim)


الْكَرَمُ التَّقْوَى، وَالشَّرَفُ التَّوَاضُعُ، وَالْيَقِيْنُ الْغِنَى

Kedermawanan adalah ketakwaan, kemuliaan adalah tawadhu‘ dan keyakinan adalah kekayaan. (HR Ibnu Abi Dunya dan Hakim)

Ketika ditanya mengenai arti tawadhu‘ (rendah hati), al-Fudhail menjawab, “Kamu tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya. Walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau tetap menerimanya. Bahkan, meskipun engkau mendengarnya dari orang terbodoh, engkau tetap menerimanya.”

Rendah hati adalah syarat pertama jika kita ingin mencapai derajat sebagai insan yang bertakwa.

Rendah hati merupakan puncak dari akhlak seorang mukmin, yaitu rendah hati kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan.

Rendah hati tidak mungkin diraih hanya dengan ilmu, harus diiringi dengan amal perbuatan.

Rendah hati dari segi ilmu memang mudah dipelajari, namun dalam implementasinya membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa bertahun-tahun.

Rendah hati mempunyai banyak level (bertingkat-tingkat), ada tingkat PLAY GROUP, TK, SD, SMP dan seterusnya.

Rendah hati dapat diteladani dari diri Rasulullah saw., karena beliaulah orang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Bahkan, malaikat pun hormat kepada beliau karena derajat beliau yang begitu mulia di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad saw. dipuji oleh Allah sebagai makhluk dengan akhlak sangat terpuji dan mendapat anugerah sebagai kekasih Allah (habîbullâh).

Di sebuah puisi, ‘Aidh al-Qarni mengungkapkan sanjungannya kepada Rasulullah saw. :

Siapa yang menghampiri pintu rumahmu, tak berhenti raga
bertutur tentang anugerah yang kau berikan
Mata bercerita tentang suka cita, tangan tentang persaudaraan,
hati tentang kelembutan, telinga tentang kebajikan

Demi Tuhan, kata-katamu mengalir bagai madu
Ataukah engkau benar-benar telah menuangkan madu pada mulut kami
Ataukah untaian makna yang kau ungkapkan
Aku melihat permata dan batu zamrud tersampaikan
Jika dirasakan oleh yang sekarat, akan tertahan ruhnya
Dan jika dipandang oleh yang di rantau, akan terobati kerinduannya

Para ulama menjelaskan bahwa rendah hati harus dimiliki dalam setiap kondisi dan tingkat atau kedudukan. Ketika kita masih belum menjadi apa-apa (tahap belajar), kita ibarat sebuah biji tanaman. Tanamlah biji itu di dalam tanah. Apabila diletakkan di atas tanah, dikuatirkan mudah dimakan binatang atau hilang disapu angin.

Saat kita berusaha mencapai puncak, hal ini laksana mendaki gunung. Agar lebih mudah mendakinya, maka badan kita harus condong ke depan dan pandangan mata ke arah bawah. Pernahkah kita melihat seorang pendaki gunung berjalan sambil menegakkan badan, mendongakkan kepala dan membusungkan dada? Semakin curam jalan yang kita daki, kita pun semakin merunduk, bahkan merayap. Bukankah pada dasarnya panjat tebing dilakukan dengan merayap?

Tatkala sudah di puncak, rendah hati tetap harus menghiasi diri. Angin pasti berhembus lebih kencang ketika kondisi kita di puncak. Agar bisa bertahan bahkan maju terus walaupun terpaan angin begitu besar, maka kita harus berjalan sambil membungkuk. Semakin kencang anginnya, berarti badan kita semakin membungkuk bahkan merayap.

Semoga Allah senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat rendah hati, amin..

Sabtu, 24 Juli 2010

rezeki lancar dengan bersedekah

Tulisan ini diilhami oleh Si Fulan dalam salah satu kisahnya. Dia menulis tentang keajaiban sedekah dan tip mudah bersedekah. Tulisannya itu sudah terbukti dalam kehidupannya. Suatu saat S Fulan membutuhkan uang Rp 1.000.000. Tapi dia hanya memiliki uang Rp 100.000 di kantongnya. Dengan ikhlas (kalau saya sih nekat.. :) ) Si Fulan menyumbangkan uang itu ke dalam kotak amal masjid. Tidak berapa setelah melakukan kegiatan sedekah itu, waktu mau pulang kantor, beliau dipanggil bendahara kantornya untuk menerima haknya yang belum dibagi, yaitu sejumlah Rp. 1.000.000,-.

Si Fulan menggunakan rumus 10% dalam bersedekah. Misalkan hari ini penjualannya menghasilkan laba Rp. 500.000, maka uang sejumlah Rp 50.000 harus disumbangkan ke pihak yang membutuhkan seperti fakir miskin, yatim piatu atau di jalan Allah lainnya. Kalau dilihat dari nilai nominalnya mungkin terlalu besar ya, Rp 50.000 tiap hari. Tapi jangan risau dulu, dengan sedekah 50.000, kalau dilakukan dengan ikhlas InsyaAllah akan mendapatkan balasan 10 kali lipat, menjadi rp 500.000, demikian menurut Si Fulan. Intinya amal harus dilakukan secara ikhlas dan mempunyai keyakinan penuh bahwa Allah mempunyai sumber-sumber rejeki yang tidak terduga dengan jumlah yang tidak terbatas pula yang siap diberikan kepada kita.

saya juga pernah mengalami hal yang hampir serupa, tapi besaran nominalnya tidak pas 10% karena tidak bisa kita nilai secara nominal. Suatu sore saya bersedekah ilmu tentang domain dan hosting kepada salah seorang teman. Eh… keesokan harinya saya dapat hadiah domain dan hosting gratis dari teman dan sebuah kontest di internet. Benar-benar langsung pembalasan dari Allah jika sedekah itu dilakukan secara tulus dan ikhlas.

Gimana anda mau mencoba ilmu memperlancar rejeki yang diterapkan oleh Si Fulan ini? Lakukan dengan segenap ketulusan hati ya…. :)

menyambut ramadan

Saudara-saudara seiman !!!
Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya'ban ini. Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan yang penuh karunia tersebut.

Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.

Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya'ban ini. Dan di bulan Sya'ban ini juga ada malam nisfu sya'ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya'ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys'ban semoga bisa kita baca dan amalkan:
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:"Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya'ban". (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:"Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan".


Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:'Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya'ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:"Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa". (h.r. Abu Dawud dan Nasa'i).

Dari A'isyah: "Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: "Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).


Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A'mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya'ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya'ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.


Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya'ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka'bah.

Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur'an, berdo'a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a'lam

Jumat, 11 Juni 2010

Pakistan Meluncurkan Facebook Islami

Setelelah terus-menerus menjadi ajang tempat menghujat dan menghina Islam termasuk Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam para profesional muda bidang IT dari Pakistan menciptakan sebuah situs jejaring sosial mirip dengan Facebook bagi umat Islam yang diberi nama millatfacebook.

Orang-orang Pakistan yang marah dengan Facebook atas karikatur penghujatan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah membuat sebuah situs jaringan spin-off yang mereka impikan dapat menghubungkan 1,6 miliar penduduk Muslim diseluruh dunia.

Sekelompok pemuda terdiri dari enam profesional IT dari Lahore, ibukota budaya dan hiburan Pakistan, pada hari Selasa meluncurkan www.millatfacebook.com bagi umat Islam untuk berinteraksi online dan protes terhadap penghujatan.

Usaha swasta tersebut muncul setelah sebuah pengadilan Pakistan memerintahkan untuk menutup Facebook sampai dengan 31 Mei, menyusul pelanggaran yang mendalam atas sebuah halaman "Hari Setiap Orang Menggambar Muhammad' dianggap 'menghina' dan 'melanggar kesucian Nabi. 'Millatfacebook sendiri adalah situs jaringan sosial pertama yang benar-benar berasal dari Pakistan sendiri. Sebuah situs untuk umat Islam oleh umat Islam di mana orang-orang "baik" dari agama-agama lain juga diterima, kata website tersebut memberitahu orang yang tertarik mendaftar.

Dijuluki MFB (Muslim Facebook-Red), setelah julukan Facebook adalah FB, pendirinya mengatakan para profesional yang bekerja di MFB menawarkan fitur serupa dengan Facebook.

Setiap anggota memiliki 'dinding' bagi teman-teman untuk mengomentari. Situs ini menawarkan email, foto, video, chatting dan fasilitas ruang diskusi. Kata Millat dari bahasa Urdu digunakan oleh umat Islam untuk merujuk kepada kaum mereka. Situs tersebut mengklaim telah menarik 4.300 anggota dalam tiga hari terakhir- sebagian besar orang-orang Pakistan berusia 20-an yang berbahasa Inggris.

Dan dari Harian Pikiran Rakyat pada hari senin ini menyebutkan jumlahnya sudah mencapai 8.000 pengguna.

Sumber: alislamu.com

kemuliaan bersedekah dengan ikhlas

Pernahkan kita bersedekah? Apakah kita sudah merasakan kenikmatan bersedekah?

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”
Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”

Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”

Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas.

Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang manusia yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Dia mampu mengalah gejolak bathin yang ingin pamer, ingin dipuji, ingin disanjung, gila penghormatan

Jumat, 19 Februari 2010

ISTRI SHOLEHAH PENYEJUK HATI

Dengan wajah lesu dan tatapan penuh kekecewaan, seorang suami mengadukan permasalahan yang sedang dia hadapi bersama istrinya kepada salah seorang sahabatnya yang mengerti agama.

“Saya hampir tidak pernah menikmati kecantikan istri saya yang sebenarnya dia miliki, “kata si suami mengawali pengaduannya. Istrinya hanya mau berdandan bila akan ke pesta atau sekedar jalan-jalan. Tetapi si istri tidak punya kebiasaan seperti itu bila tidak keluar, bahkan dianggapnya lucu karena bukan pada tempatnya untuk berdandan di rumah. Begitulah kira-kira isi keluhan si suami. Sahabatnya menasehati. “Tunaikanlah hak istrimu yaitu didiklah ia dengan ajaran agama, agar mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya, bersabar dan banyaklah berdoa pada Allah. “Suami itu tersentak sadar bahwa meskipun perjalan rumah tangganya dengan sang istri telah membuahkan lima anak dia sama sekali belum menunaikan hak istri yang satu ini.

Istri Shalihah

Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi umumnya wanita. Namun kenyataan yang ada sekarang sering istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya, istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikat. Namun jika keluar rumah segalanya dipakai; baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil wah.

Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini?
dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabannya adalah kembali kepada ketentuan syari’ah islam dan tidak ada alternatif lain. Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi istri yang shalihah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Bahwa beliau bersabda:

“Apabila diperintah ia taat, apabila dipandang menyenangkan hati suaminya, dan apabila suaminya tidak ada dirumah, ia menjaga diri dan harta suaminya.” (HR.Ahmad dan An-Nasa’i, di Hasan-kan oleh Albani dalam Irwa’ no.1786)

Kalau kita lihat tuntunan islam diatas, ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapa pun bisa melakukannya. Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri diatas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik; sebagaimana yang dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam:

“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR.Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash)

Diniatkan untuk Ibadah

Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya. Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam ketika Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya:

“Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menjawab, “Suaminya.. “ (HR. Hakim dan Al-Bazzar)

Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan istri kepada surga-Nya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani:

“Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: “masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.”

Kemudian hendaklah istri mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam:

“Andaikan saja dibolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi: Hasan Shahih)



Terlalu banyak peluang bagi seorang istri untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya terlalu mudah pula seorang istri terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah Allah gariskan. Yang perlu diingat oleh istri ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu.

Menyenangkan Hati Suami

Apabila diperintah oleh suaminya, istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya. Istri yang demikian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya:

“ ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34)

Adapun kriteria pertama dan ciri-ciri shalihah; Imam As-Sindi mengatakan dalam bukunya Khasyiah Sunan Nasai juz 6 hal 377: “Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia. Juga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.”

Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami, diantaranya: penampilan diri agar enak dipandang, dan berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman.

a. Penampilan Diri

Umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan di luar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut. Diakui atau tidak, hal ini sangat mungkin terjadi.

Bagaimana seandainya istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu. Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang (maaf) menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar.

Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram di luar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.

b. Berbicara yang Enak

Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan lembut serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbicara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan suami.

c. Pengaturan Rumah

Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah. Bukankah segala sesuatu yang baik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah?

http://alghuroba.org/65